Thursday, March 20, 2008

You've gotta be kidding me !

Pagi itu hujan membasahi jalan - jalan ….entah mengapa Meutia ingin sekali berjalan kaki menuju stasiun Manggarai untuk berangkat kerja, padahal jarak yang ditempuh tidak dekat, yang biasanya ia tempuh dengan memakai tumpangan angkot atau bajaj. Ia telusuri jalan lapangan Ros yang saat itu cukup padat dan agak macet.. ehmm biasa Jakarta.. hujan sedikit, pasti macet.. karena genangan air di sana- sini. Tak perduli sepertiga bagian celana panjangnya mulai membasah, meutia rela menikmati hujan, mengamati jatuhnya titisan-titisan air dari langit, perilaku orang-orang di hari hujan, pemandangan suasana kota yang diguyur hujan bagai sebuah lukisan berwarna sendu..indah sekali... padahal biasanya tidak terlalu menarik perhatiannya.
Tak terasa perjalanan sudah sangat jauh , melewati sebuah pasar.. suasananya tidak seramai dan padat seperti biasa ..agak lenggang karena hujan dan genangan air di beberapa sisi pasar.. tampak beberapa ibu basah kuyup dengan barang belanjaannya berlari-lari kecil mencari tempat berteduh..cek-cek hemm.. perjuangan seorang ibu rumah tangga demi hidangan sekeluarga..gumannya sambil mengelengkan kepala. Beberapa pedagang berusaha melindungi dagangannya dari tetesan hujan, sebagian membiarkan saja karena tidak ada bahan peneduh, seperti penjual ubi singkong malah senang karena ubi-ubinya jadi bersih dari tanah.. Tampak nenek penjual jajanan pasar berusaha mencari tempat yang lebih teduh.dengan tetap bertahan menjajakan dagangannya di tempat biasa dia mangkal.. Meutia selalu menyempatkan diri mampir untuk membeli, bukan karena ia terlalu menyukai panganan itu, tapi karena dia menyukai semangat juang nenek tua itu untuk memenuhi kebutuhan hidupnya.. walau sudah tua renta dengan keriput di seluruh kulitnya dengan postur tubuhnya yang sudah agak membongkok..dia gigih berjualan setiap hari di pasar dari pagi hingga siang sampai dagangannya habis, dagangan yang sangat sederhana di atas sebuah nampan bambu yang ditutupi daun diatasnya disusun empat macam jajanan pasar dengan warna yang menarik selera, ada getuk yang berwarna coklat krem, ada cenil yang kenyal dan berwarna merah, ada ciwel yang berwarna abu-abu dan ketan yang terbuat dari beras hitam, yang ditaburi kelapa parut.. Kombinasi warna yang sangat menarik. membuatnya langsung menghampiri..
” nek..biasa dua bungkus yang satu nggak pakai gula ya..” nenekpun mengangguk, diambilnya sepotong kertas yang dilapis daun, dan dengan terampil ia memasukan empat macam kombinasi jajanan pasar itu,...meutia senang sekali memperhatikan nenek itu bekerja dengan cekatan, tak lama kemudian dua bungkusan kecil itu telah siap untuknya
” yang nggak pake gula, karetnya dua..” kata nenek penjual dengan nada kejawa-jawaan ciri khasnya.
” ya ..makasih nek” dan diserahkan uang dua ribu perak kepadanya, perasaan meutia menjadi riang .. seperti cucu yang mendapat oleh-oleh dari neneknya...jajanan itu biasanya untuk dia sebungkus yang tidak pake gula dan sebungkus lagi untuk Martin, OB di kantor yang selalu sudi melayaninya dengan baik jika ia perlu fotokopi atau membelikan makan siang jika dia sedang enggan ke kantin.

Ketika sedang memasukkan bungkusan jajanan itu ke tasnya.. tiba- tiba sesosok tubuh gempal basah kuyup mendekatiku.. siapa ini orang..? agak curiga Meutia menatap wajahnya.. dibawah tetesan hujan yang tambah deras tampak wajah tambun basah kuyup menyeringai padanya..
” belanja mbak?”
” ee ..kamu Dul..kok hujan-hujanan? Nanti sakit loh..”
” ahh dah tanggung..biarin aja” ternyata si Badul, preman pasar, yang bertugas sebagai juru parkir pasar dan penguasa lahan jual bagi para pedagang di sepanjang jalan sekitar pasar. Meutia mengenalnya sejak 7 tahun yang lalu.. ketika melakukan penelitian akhir di kampung Badul. Dulu sosoknya tampak garang dengan mata liar dan jeli dengan perhiasan yang dipakai ibu-ibu yang belanja di pasar..maklum dulu profesinya juga sebagai penjambret, sekarang sepertinya sudah tidak lagi. Badul pernah keluar masuk penjara karena penganiayaan, yaa.. pada masa tawuran dulu dia termasuk sosok pentolan dari kampung rw 03 Manggarai. yang dikenal sebagai kelompok kampung yang paling ditakuti, karena remaja-remaja dari rw. 03 yang terlibat tawuran, dikenal sebagai anak-anak yang nekad dan bengal..
Tapi setelah Meutia mengenalnya lebih dekat ternyata sebenarnya dia anak yatim piatu yang disia-siakan..yang gigih mencari kehidupannya sendiri tanpa orang lain yang mendukung, dan dia juga orang yang rajin, terbukti ketika pelaksanakan projek pengabdian di RW 03 yang dipimpin Meutia, dia satu-satunya anak muda yang setiap hari datang dari pagi hingga sore untuk membantu pekerjaan pembangunan sumber air bersih di kampungnya..tanpa upah yang berarti.. hanya sekedar membeli sebungkus nasi dan sebungkus rokok untuknya.. ya memang kita tidak boleh menilai orang dari kulit luarnya saja.

******************************


Meutia jadi terhiang kembali pengalaman 7 tahun yang lalu..pengalaman hidup yang paling bermakna baginya, awal dari segalanya. Ceritanya dimulai ketika pertama kali Ia menginjakan kaki ke kawasan Manggarai, untuk tujuan penelitian tesis S2nya tentang pengaruh fungsi Ruang Publik terhadap tawuran antar Kampung di Manggarai, Jakarta. Kawasan ini memang dikenal sebagai kawasan yang sering tawuran, kebetulan juga karena kawasan ini dekat dengan lingkungan rumahnya, jadi setiap saat Meutiapun tahu persis jika ada tawuran, karena suasana gaduh, orang-orang berlarian dan remaja-remaja yang saling timpuk-timpukan batu dengan wajah yang penuh emosi dan mata memerah marah.., sampai pembakaran kampung yang menimbulkan kerugian besar dari penduduk bahkan ada yang menjadi gila karena semua harta miliknya hangus terbakar.., suara sirine ambulans yang lewat dan terkadang tembakan ke langit dari polisi .. suasana tegang yang mendebarkan yang biasa dia alami saat itu. Apalagi suatu ketika kendaraan angkot atau bajaj yang dinaiki Meutia melewati lingkungan mereka.. tiba-tiba ada teriakan histeris mengagetkan dan orang-orang berlarian.. semua jadi panik.. toko-toko bergegas menutup dagangannya...pedagang kaki lima lari berhamburan.. ibu-ibu dengan menggendong anaknya berlarian dengan wajah panik tak karuan...ada yang sambil menangis.. karena rasa takut dan khawatir yang besar. Sementara Meutia terdiam kaku dalam kendaraan angkot tak mampu berbuat apa-apa.. semua penumpang meneriaki sopir,
” cepat - cepat...pak...!!! ngebuuut...aduuuhh bisa-bisa kita kena sasaran ..!!! Si supir dengan panik mengenjot gas .. yang hampir-hampir menabrak motor di depannya yang terhalang juga dengan kendaraan di depannya...klaksot-klaksonpun memekik telinga.. Sudah beberapa kendaraan yang terkena sasaran pengrusakan..dan sudah beberapa anak sekolah yang tidak tahu menahu jadi korban sasaran pengeroyokan dan ada yang sampai meninggal. Kasihan... untungnya masa itu sudah berlalu...

********************


Karena peristiwa yang sering ia alami itu mendorong Meutia ingin meneliti apa yang menyebabkan terjadinya tawuran antar kampung tersebut, namun ketika pertama Meutia mengajukan proposal penelitian, dosen pembimbingnya mengernyitkan dahi..
”kamu sudah yakin dengan topik yang akan kamu teliti?”
” ya pak ..saya sudah mengumpulkan sebagian data untuk itu”
” maksud saya.. ini penelitian kualitatif, selama 6 bulan penelitian harus benar- benar terjun ke lapangan dan masuk dalam lingkungan dan kehidupan mereka, pagi, siang maupun malam harus ada pengamatan, bisa?”
” ya pak..saya akan usahakan sebaik mungkin ”
” hemm.. baiklah..kamu harus mengumpulkan info dari sumber informan yang tepat, terutama pelaku tawuran itu sendiri..bisa?”
lagi-lagi ini dosen menanyakan bisa? kenapa sih? Apa dia tidak yakin..apa karena aku seorang perempuan bertubuh kecil dan berparas kurang meyakinkan untuk menghadapi para preman atau anak-anak bengal? huuhh... membuatku semakin bernapsu untuk menunjukan kemampuanku untuk membuktikan bahwa aku bisa, begitu tekad Meutia.
Memang sebelumnya belum ada yang meneliti tentang tawuran di Jakarta apalagi yang dikaitkan dengan ruang publik dan perkampungan golongan rendah di kota . dari arsip perpustakaan di kampusnya tidak ia temukan hasil2 penelitian sebelumnya yang bisa ia kembangkan, terpaksa Meutia mencari dari jurusan lain di FISIP, ada satu dari jurusan Sosiologi, dan langsung dosennya sendiri ditemuinya, Dosen itu bilang ada satu penelitian tentang tawuran, cuma ini tawuran di lingkungan perdesaan bukan perkotaan yaitu kasus tawuran di Ambon ..ya jelas lain permasalahan kota dengan desa..apalagi yang di Ambon berunsur hara... pikir Meutia, hemm tapi paling tidak ini bisa aku pelajari rangkaian teori yang dipakainya... tapi berarti aku harus betul-betul menemukan gejala yang ada di lapangan... dan dia menghela nafasnya yang panjang membayangkan serangkaikan pekerjaan yang harus dia lakukan untuk memulai penelitiannya.

***************


Saat terjun lapanganpun tiba..strategi pertama yang Meutia lakukan adalah menemui para ibu..mereka adalah yang paling mudah untuk ditemui dan diajak bicara... dan memang betul.. ibu-ibu di sana mudah sekali akrab dan antusias ketika ia memperkenalkan diri sebagai seorang mahasiswa S2 yang akan meneliti di lingkungan mereka... bagai seorang artis masuk kampung.. tiba – tiba, ibu-ibu itu berkerumun dan terus bertanya siapa dirinya dan mau apa..dan seorang ibu yang lebih dahulu kenal menjelaskan,
” ini loh.. mba ini mahasiswa, mo neliti di sini..”
” neliti tentang ape.?” sahut ibu yang lain.. dengan logat betawinya
” entu.. tawuran ..”
” oooh.. emang tuh... kite aja dah banyak yang jadi sasaran.. capek deh pokoknye.. mpok ani aja ampe gile tuh... gara-gara rumehnye hancur.. kasihan deh.. semua habis kebakar...” dia menunjuk pada seorang perempuan yang tak terurus berkeliaran dekat rumahnya yang tinggal puing yang hangus...pandangannya kosong.. sesekali mengomel sendiri.. hemmm ..hati Meutia jadi terenyuh melihatnya...
sementara ada yang menyahut...
” Ooo.. sangkain mo bagi bagi in sembako atau sumbangan ape kek buat kite.. he hee...” ha haa.... dan suasana akrabpun terjalin... setelah Meutia menceritakan apa-apa yang ia butuhkan untuk data.. dengan sigap para ibu saling menunjuk siapa- siapa yang bisa diwawancara,,
” pon ... sono panggil si Anto... bilangin emaknye manggil, juga tuh si Oji.. die kan juga jagonya tawuran...” sahut seorang ibu dengan logan betawinya yang kentara..
Weiss.. ternyata strategiku tidak salah... biar preman atau anak bengal... masih patuh sama ibunya...Meutia mengguman riang, rasanya ia ingin melonjak kegirangan. Walau susah juga remaja-remaja itu didorong-dorong ibunya untuk menemui Meutia..dan dengan wajah penuh curiga akhirnya remaja-remaja itu mau diwawancarai dan semuanya berjalan lancar ... seluk beluk masalah tawuran terungkap dari mulut mereka sebagai pelaku utamanya.

Penelitian terus berjalan..hampir setiap hari Meutia ke lapangan dan berkeliling kampung dari kampung yang satu ke kampung yang lain...berbagai versi cerita yang ia dapati.. banyak suka duka yang dia hadapi termasuk malam-malam dikerubungi laki-laki bertelanjang dada dengan mata nakal dengan ledekan yang bikin ciut hatinya.. ” he hee.. bening juga neh....” kata salah seorang dari mereka diikuti cengengesan dari yang lain yang bergerak semakin mendekat.... oo..mau apa mereka..!? , hati Meutia bergetar..tapi ia berusaha setengah mati untuk tetap tenang dan terus berdoa dalam hati .. dan syukurlah tidak ada yang berani macam-macam dengannya... malah setelah saling berkomunikasi.. mereka berlaku baik dengan membantu memberikan informasi yang Meutia butuhkan bahkan mau mengantarkan ke tempat-tempat terjadinya peristiwa tawuran. Alhamdulillah .. Meutia menarik nafas lega....

***************


Lanjut cerita akhirnya Meutia memasuki lingkungan kampung RW.03 yang paling padat dengan gang-gang yang sempit, kampung ini dikenal paling sanger.. jangan coba-coba macem-macem di kampung ini, bisa mati dikeroyok masa...pertama yang ia temui adalah bapak RWnya.. pak Suroto namanya..seorang pria baya yang tangannya penuh dengan tato.. berkulit hitam dengan tubuhnya yang gempal..walau raut wajahnya tidak terlalu ramah .. tapi ternyata dia sosok pria yang sangat perhatian dan perduli dengan orang lain terutama warga lingkungannya.. Ketua –ketua RW sebelumnya tidak ada yang mampu menghadapi kenakalan remaja di sana, tapi sejak posisi RW dipegangnya tak seorangpun remaja yang berani membangkang perintahnya...semua remaja-remaja bengal itu patuh dan menurut dengannya.. maklum dia dulu juga preman yang ditakuti..tapi seorang preman yang berkeinginan tinggi untuk menaikan martabat masyarakat di lingkungannya, yang selama ini dikenal hanya buruk-buruknya saja.. yang paling miskin, paling bodoh jika dilihat dari tingkat pendidikan akhir anak-anaknya.. yang paling bengal dan liar...karena banyak yang jadi preman dan terlibat tawuran..Pak Roto ingin sekali merubah image itu... Ketika Meutia mengungkapkan maksud kedatangan, dengan bersemangat pak Roto mengantarkannya ke tempat-tempat yang diperlukan untuk melakukan pengamatan..dia berkata ” iyee.. emang kite dulu kurang kena sekolahan ..paling banter lulus smp .. mangkanye.. jangan sampe deh generasi anak kita jadi gitu lagi.. pengennya mereka bisa lebih maju... soalnya cari kerjaan makin suseh.. paling rendah mintanye lulus sma..di sini banyak yang nganggur.. jadinye.. pade nggak bener...” hemm tak disangka seorang yang berpendidikan tidak tinggi punya keinginan yang tinggi...

********************

Sampai suatu hari pak Suroto menyampaikan sesuatu yang membuat Meutia tak bisa tidur semalaman.
Siang itu setelah mereka berkeliling seperti biasa..pak Roto berkata
” mbak Meutia.. ini kagak ade kaitannya dengan penelitiannya mbak... maaf ini saya ingin sekali minta bantuannya.. ya kalau–kalau ade jalan bisa dibantu masyarakat di sini.”
” ada apa pak? Apa yang bisa saya bantu?”
” ya..gini mbak ..di sini masyarakat sulit sekali mendapatkan air bersih...maklum kampung ini dibangun di atas lahan buangan sisa-sisa bengkel PJKA ( perusahaan kereta api) jadi kondisi airnya jelek sekali..butek, bau besi, untuk mandi aje gatal.. apalagi untuk minum.. ya.. kalau – kalau aja ade yang kenal, bisa dapetin dana bantuan buat bangun sumber air bersih di sini”
” waduh maaf pak..saya tidak punya koneksi..karena belum pernah melaksanakan project seperti itu...apalagi saya hanya seorang mahasiswa..maaf ya pak.. ” jawab Meutia agak tergagap..dan karena hari sudah malam.. ia buru-buru minta ijin pulang...mungkin juga terdorong dengan rasa khawatir ditagih lagi bantuan..yang ia tidak tahu harus berbuat apa..sementara Meutia sedang pusing menghadapi penelitian dan tesisnya sendiri...ditambah pusing dengan urusan Husein sang kekasih yang akhir-akhir ini sering ngambek, karena perhatian untuknya tersita oleh penelitian ini ....
Tampak wajah pak Roto agak kecewa... ketika Meutia berjalan terburu-buru meninggalkannya, yang berdiri terpaku menatap jalan gang yang sempit..pikiran Meutia pun jadi runyam dibuatnya.

Dan malam itu, ia benar-benar tercenung di depan komputer... tak bisa berfikir... hasil penelitiannya hari itu tak mampu dituangkannya dalam tulisan... pikirannya benar-benar kacau balau... kenapa tiba-tiba aku merasa rendah dan malu....untuk apa aku mencari pendidikan tinggi... untuk apa penelitianku ini..jika aku tak mampu membantu memecahkan masalah masyarakat yang aku teliti...hanya kebanggaankah yang kau cari?.. kebanggaan di atas selembar kertas yang bertuliskankan ijazah S2..dan sebuah buku tebal yang bertuliskan Tesis hasil penelitian... yang hanya akan tersimpan di rak perpustakaan kampus.. for what? Untuk penelitian lanjut orang lain yang juga tidak berbuat sesuatu untuk masyarakat tersebut... masyarakat yang telah tulus memberikan bantuan dan sambutan yang ramah dan hangat...yang mau meluangkan waktu dan perhatian untukmu..yang kelak menjadikan kamu lulus dan merasa bangga telah menemukan jawaban dari gejala yang ada di masyarakat..padahal kamu hanya menyusun dari apa yang mereka informasikan..seorang sarjana tinggi ilmu tentang manusia dan kebudayaan ..tapi kamu tidak dapat berbuat yang bermanfaat untuk manusia lainnya. Mereka yang akan kau tinggalkan tanpa mendapat apa-apa..nothing...!! You're using them, Meutia.!!! for your own seek.. for your ego..you give nothing for them… shame on You!!!!…tiba-tiba matanya membasah.. dan ia merasa hina..hina sekali.....

Esok harinya..ketika ia menemui pak Roto kembali…
” pak Roto..” sahut Meutia agak ragu..
” ya mba .?.” jawabnya sambil mengangkat wajahnya ke arah Meutia
” ehmm.. tentang sumber air bersih kemarin…nanti kalau penelitan saya sudah selesai .. saya akan usahakan mencari cari jalannya ya pak....”
” eeeh.. terimakasih ya mba...” wajahnya seketika berubah ceriah sambil menjabat tangan Meutia dengan erat dan bersemangat.. Meutia jadi merasa terharu.. tapi dalam hatinya..ya...ampuuun..Meutia apa yang telah kau katakan tadi?!.. kau menjanjikan sesuatu yang akan sulit kau lakukan... tidak mungkin... dari mana aku bisa dapatkan uang.?.. sedang sekolahmu sendiri dibiayai beasiswa...dan kau tidak pernah berkecimpung dalam dunia LSM...project social...kamu pun bermasalah dengan waktumu yang tersita untuk kekasihmu Husein...ada apa denganmu Meutia???!!.... sekali janji harus kamu tepati...jika tidak.. berarti kau berhutang...huh..cari masalah saja...Entah mengapa Meutia tak perduli dengan semua itu... ”what will be.. will be... I just want to try..and do my best....” desisnya.

*******************


Hari yang dinantipun tiba.. hari menuai jerih payah yang ditempuh dengan perjuangan. Akhirnya Meutia dinyatakan lulus dengan memuaskan.. terimakasih Tuhan.... tapi ini bukan akhir dari perjalanan.. ini adalah langkah awal.. awal dari merealisasi janjinya... dan dengan langkah yang pasti Meutia menuju kampung RW. 03, di sana disambut dengan pak Roto sekeluarga dan para tetangganya.. mereka mengucapkan selamat atas lulusnya pendidikan Meutia.. dan pembicaraanpun berlanjut pada rencana pembangunan sumber air..langkah awal yang dilakukannya adalah melakukan survey lokasi pembangunan, mendatangi rumah-rumah ..untuk mengetahui lokasi mana yang benar-benar masyarakatnya membutuhkan air..dan meninjau kondisi pelayanan sumber air bersih yang telah ada...dan kenyataannya semakin membuat hati Meutia terenyuh...bayangkan sebagian besar rumah- rumah petak yang ada berukuran sempit tanpa wc dan tanpa dapur yang dihuni satu keluarga besar bahkan lebih dari satu keluarga ..contohnya keluarga pak Harun, suami istri dengan 5 anaknya yang masih kecil-kecil tinggal dalam sepetak rumah ukuran 2,5 x 3 meter tanpa WC, yang hanya berisi tempat tidur tingkat dan kompor minyak tanah di salah satu pojokan, hanya untuk memanasi makanan, benar-benar membuat Meutia tidak habis pikir, kok bisa mereka hidup?
Bahkan ada cerita yang memilukan.. karena antrian panjang pada sebuah pompa manual milik seorang penduduk patah waktu digunakan, hingga terjadi perkelahian yang menewaskan seseorang..sebegitukah pentingnya arti keberadaan air bersih bagi mereka...
Di lingkungan mereka, pemandangan pagi atau sore hari, banyak para ibu yang memandikan anaknya, cuci mencuci di depan rumah atau gang rumah mereka, makanya tiap rumah tersedia gentong/ ember2 penampungan air, terkadang bila hujan turun, ember itu berfungsi untuk menampung air hujan. Air yang ditampungpun tidak jernih, keruh, hanya ada satu atau lebih ember yang tertutup dan airnya jernih, kata pemiliknya karena air itu untuk minum dan masak, yang ia beli dari tukang air yang lewat .Terlebih lagi dari masyarakat sebanyak 2. 528 penduduk saat itu, dalam lahan kampung yang seluas kurang lebih 3000 meter persegi, hanya ada 1 deret MCK umum dengan 8 pintu, yang kondisinya sangat memprihatinkan dengan pintu-pintu yang mau copot, bau yang tidak sedap, keran-keran air banyak yang tak berfungsi, air yang keluarpun keruh, berbau besi dan kata beberapa warga yang menggunakannya sering menyebabkan gatal-gatal di kulit.. namun apa boleh buat mereka tetap memanfaatkan air itu, karena tak ada pilihan lain. Sementara ada satu MCK lainnya, yang cukup lumayan kondisinya.. tapi kenapa sepi dikunjungi? Ternyata MCk yang dibangun atas bantuan suatu lembaga swasta itu, tidak benar dalam pelaksanaannya, jarak pengeboran sumber air bersihnya dengan bak penampungan buangan WC atau septic tank, dekat sekali, membuat air jadi berbau tidak sedap dan si pembangun lari tidak bertanggung jawab, padahal sudah berjanji akan memperbaiki namun tidak kunjung datang .. MCK itu menjadi sia sia belaka...sayang sekali.
Meutia juga mensurvey lokasi titik air yang bersih dan tidak tercemar, juga mendata lingkungan yang paling banyak rumah penduduknya yang tidak memiliki WC, pikirnya semua harus tepat dan terencana agar tidak salah penempatan.

*************************


Dari data dan bukti yang ada, Meutia menyusun proposal pengajuan dana ditambah dengan keahliannya menyusun kata-kata yang bisa membuat orang terenyuh membacanya, dan rincian budget pembangunan dan dilengkapi foto-foto kondisi yang ada, pikirnya tak mungkin orang mau memberikan uangnya tanpa bukti-bukti yang meyakinkan. Setelah proposal selesai ia mencari info sumber-sumber funding yang ada, dan pergi menemui ke beberapa lembaga pengurusnya.. dari semua yang dia datangi, menyatakan bahwa jika mengajukan proposal permohonan dana untuk masyarakat, harus dari lembaga yang resmi disertai dengan surat pendirian yayasan atau lembaga. Meutia menjadi kehilangan semangat....kenapa tidak bisa diajukan oleh orang-orang independent yang perduli tapi tidak membawa embel-embel kelembagaan...ia mengeluh dalam hati.. aku tidak bernaung di bawah payung satupun lembaga..ataupun partai politik.. tidak mungkinkah jika seorang punya niat baik untuk membantu kepentingan orang banyak, tetap bisa mendapatkan dana bantuan itu?..tapi Meutia tidak mau menyerah..setiap hari ia terus mencoba... kali ini dia menemui lembaga pemerintahan. mungkin ada dana yang tersedia untuk sumber air bersih... bukankah kewajiban pemerintah memperhatikan nasib rakyatnya..? dan kondisi di kampung itu sudah sangat memprihatinkan dan menyangkut banyak orang, dari Pemda setempat, kecamatan, kelurahan..alasannya sama harus diajukan oleh suatu lembaga..atau lembaga masyarakat itu sendiri, a ha.. masih ada jalan pikirnya, aku bisa meminta pak RW membuat surat pengajuan.
“jadi bisa pak, kalau diajukan oleh masyarakatnya sendiri?”
“ ya bisa..dari ketua Rt atau RW yang menyatakan memang dibutuhkan dan ada sederet daftar tanda tangan masyarakat setempat untuk menguatkan, dan ada juga tanda tangan dan cap dari lurah, camat, bla..bla...dan sebagainya...” Meutia terus mencermati dan mencatat apa-apa yang dibutuhkan, wow daftar yang cukup panjang yang harus dipenuhinya....tapi ia tetap bersemangat.
“ baik pak nanti saya akan usahakan terlampir semuanya...” melihat gelagat itu si petugas cepat-cepat menambahkan,
“ ee..tunggu mbak.. tapi kita nggak bisa menjanjikan dapat loh...”
” loh kenapa pak?” jawab Meutia heran,
” yah itu tergantung program tahunan pemerintah yang telah disusun, apakah ada program pendanaan untuk sumber air bersihnya, dan kalaupun ada biasanya sudah ditentukan lokasi tertentu yang mendapat kucuran dana..yang sesuai surat perintah yang terlampir di sana.. kalau di luar itu saya nggak jamin bisa diberikan..kalau mau masukin proposal silahkan saja.. kalaupun bisa biasanya prosesnya lama, tidak mungkin di tahun pengajuan.. karena waiting list.. yang mengajukan setumpuk...banyak...”
” tiba-tiba Meutia jadi lesu kembali.. patah semangatnya...
” gini aja Mbak .. saya sarankan lebih baik ajukan ke lembaga-lembaga swasta saja.. itu kan banyak funding dari luar negri..ngasih dananya besar loh.” ya ampun ..kok pemerintah main lempar tanggung jawab ke pihak swasta atau pihak luar negri sih.. negara macam apa ini..bukankah ini kewajiban negara yang tertera dalam UUD 45? lagi pula aku sudah mencoba ke pihak swasta.. tidak semudah itu meminta pendanaan, harus ada surat akte yayasan... yang jelas-jelas aku tidak punya...geram Meutia dibuatnya..dengan lesu ia keluar dari gedung lembaga pemerintah itu yang berdiri dengan mentereng, tapi tak mampu berbuat sedikitpun untuk rakyat kecilnya... hanya untuk sebuah sumber air bersih yang sangat vital untuk mereka yang membutuhkan ..yang biayanya jauh lebih murah daripada untuk membiayai sebuah kampanye politik..

Ketika bertemu dengan dengan pak Roto, Meutia menceritakan semua yang dia alami, pak Roto tampak muram.. dia katakan.. jangan mengharapkan dari lembaga pemerintahan karena hanya membuat hati kecewa... dia sudah berkali-kali mengajukan permohonan lengkap dengan lampiran persyaratan yang dibutuhkan.. tapi sudah 2 tahun tak pernah mendapat balasan. Meutia jadi prihatin... haruskah aku menyerah? Dan mengecewakan masyarakat di sini?
” tenang pak Roto... saya akan terus berusaha.. masih ada jalan..sampai ketemu lagi nanti..” dengan terus berfikir ..Meutia melangkah meninggalkan pak Roto yang masih tampak muram...apa yang harus aku lakukan? Tuhan tolong aku....beri aku jalan....
Dan sambil menelusuri jalan ke arah rumahnya, ia melewati sebuah mesjid kecil yang setengah jadi dibangun.., dan dia melihat orang-orang yang meminta bantuan sumbangan pembangunan mesjid di jalan, berdiri di bawah terik matahari, menadahkan jaring ikan ke arah kendaraan yang lewat di depan mesjid..mereka melakukannya tanpa rasa lelah dan mengeluh.. jaring itu penuh dengan bermacam jenis uang kertas dan recehan dari lima ratus rupiahan hingga lembar seratus ribuan.. ternyata masih banyak orang yang mau mendermakan uangnya demi kebajikan, guman Meutia...tiba-tiba langkahnya terhenti... ya... masih banyak orang yang mau mendermakan uangnya... kenapa harus putus asa.. masih ada jalan...cepat-cepat Meutia bergegas ke sebuah Wartel terdekat.. di dalam box wartel dia membuka buku telpon yang sudah kumal yang selalu dia bawa ke manapun... satu-satu ia hubungi orang-orang yang ada dalam daftar list buku kecil itu.ada yang hubungan saudara, teman , kerabat, teman dari kerabat, dan yang lainnya.. dengan hati yang berdebar dia coba untuk bicara....
Hallo...bisa bicara dengan....Apa kabar Tante...selamat sore om.. assalamu alaikum pak.. bu.. , bagaimana kabarnya...? begini.. kebetulan saya sedang melaksanakan pengabdian masyarakat... ada masyarakat yang.....apakah sudi kiranya......bla.. bla....bla....semua nama yang ada, dia hubungi.. ada yang menolak.. ada yang bilang lain kali.. ada yang tidak mengangkat telpon... tapi banyak juga yang mengundang datang ke rumah... bertemu di mana.. dan bahkan ada yang langsung minta no. Rek..bank untuk pengiriman...tak disangka.. Meutia menjadi semakin bersemangat, dia langsung mendatangi orang-orang yang bersedia ditemui..dia juga mengetuk dari satu pintu ke pintu yang lain ( door to door) dan mencari informasi ..sana sini siapa kira-kira orang dermawan yang mau turut membiayai project ini... hujan dan terik dia lewati tanpa terasa.. dan Meutia tidak menyangka kalau dia bisa berhasil mengumpulkan dana hingga puluhan juta.. seperti jalan yang dimudahkan olehNya..bahkan banyak yang tak perlu melihat atau membaca proposalnya, sudah setuju memberikan bantuan... kalau bukan untuk masyarakat itu mana mungkin aku mampu mengumpulkan uang sebanyak ini.. Meutia jadi terharu....pembangunan pun dapat dimulai. Disambut gembira masyarakat di sana.. lokasi yang dipilih adalah lahan kosong bekas gardu pemilihan umum, di belakang Mushola, walau kondisinya kumuh tapi titik sumber air di situ jernih bebas tercemar, lagi pula mushola itu tidak memiliki tempat wudhu yang memadai, tadinya hanya ada beberapa kran yang menempel pada dinding gardu, nantinya selain untuk berwudhu, masyarakat juga bisa mengambil air bersih di situ, rencana Meutia. Dari membeli bahan material, mengatur keuangan, hingga pengawasan pelaksanaan dilakukan oleh Meutia di dampingi ibu Rw yang lebih banyak ada di tempat...setiap hari mengawasi jalannya pembangunan di bawah terik matahari yang menyengat kulitnya..tapi semua tidak dirasa meutia karena senangnya..apalagi karena masyarakatnya yang kompak bekerja bakti membangun bersama, terkadang ada yang menyumbang makanan, rokok untuk para pekerja, atau sekedar membereskan puing-puing..terutama seorang embah pemilik warung kecil di sebelah mushola.. sangat baik sekali memperlakukan Meutia.. dia sering mengajak meutia mampir duduk di warungnya..supaya tidak terus berdiri seharian dan terkena terik matahari dan..mbah selalu menghidangkan minuman segar atau panganan kecil yang tak pernah mau dibayar.. membuat Meutia menjadi terharu melihat ketulusan si mbah..


*****************



Malam itu Husein datang dengan wajah yang masam, karena kemarin Meutia tidak bisa lagi memenuhi janjinya untuk pergi makan malam bersamanya karena ia letih sekali dan baru tiba di rumah lewat magrib, dan terjadilah sedikit pertengkaran,
” dulu kamu bilang setelah selesai tesis, akan banyak waktu untuk kita berdua..dan aku telah sabar menunggu itu.. tapi apa kenyataannya sekarang.. kau tetap tidak punya waktu untukku..kau tidak mempedulikan aku lagi..” kata-kata itu sangat menusuk hati Meutia.
”tapi..”
”Sudahlah aku tidak mau mendengar alasanmu lagi.. kau terlalu sibuk dengan duniamu, egois..dan tak perduli dengan perasaanku !” kecamnya sebelum pergi meninggalkan Meutia dalam keadaan melongo..benarkah...aku ini egois?..mungkin aku yang salah...benarkah aku hanya memikirkan diriku sendiri? aku bahkan harus kehilangan peluk kasih hangatmu.. ucapan lembut dan manismu yang biasa kudapat tiap pertemuan kita..ungkapan cintamu ..pujianmu.. untuk kunikmati hingga aku terlena..ooooh..kalau saja kau mau sedikit mendengarku..tidak terus menguasai pembicaraan... tapi untuk apa... ... kaupun tidak bisa memahaminya..kau yang selalu aneh memandang orang-orang yang berbuat untuk masyarakat bawah, yang tidak pernah terjamah olehmu... kau yang memandang jijik ketika melewati kumuhnya lingkungan perkampungan..dan yang selalu memandang rendah para preman...dan tentunya kaupun akan memandang jijik padaku jika tahu aku bersama mereka hampir setiap hari..yang menyita waktu untukmu..pulang dengan keadaan lusuh dan bau keringat dan kulitku yang jadi kusam dan berflek karena sengatan matahari...ya..kau tidak akan perduli dan mengerti dengan apa yang aku lakukan...karena kau menginginkan kekasih bagai seorang putri cantik yang lembut, bersih terpelihara..harum semerbak, yang selalu ada menyongsongmu dengan penuh cinta kasih ketika kau datang... tidak kasihku..aku bukan lagi milikmu seorang... aku milik orang banyak..orang-orang yang membutuhkanku.. dan walau aku harus kotor dan lusuh...tapi aku bahagia karenanya..dan aku membutuhkan mereka untuk membuatku merasa berarti... Meutia mengusap matanya yang membasah, dan menarik nafas yang panjang tuk menghilangkan gemuruh hatinya..ya.. aku harus tetap tegar dan..terus melangkah..langkah yang telah aku pilih..aku tidak bisa berhenti sebelum semuanya finish.. tak seorangpun bisa menghalangiku..sekalipun aku harus kehilangan cintanya...dan kuharap ini hanya untuk sementara, karena akupun membutuhkannya untuk mendampingiku..untuk kehidupan masa depanku..karena aku sangat mencintainya...mungkinkah tetap kuraih?

Esok hari walau agak lesu karena semalam tak dapat tidur dengan nyenyak, Meutia tetap pergi ke Rawasari untuk mencari material keramik untuk dinding dan lantai sumber air bersih itu, tak tanggung-tanggung ia tak mau diberi produk kualitas dua yang lebih murah, ia tetap memilih yang kualitas satu, agar lebih kuat bertahan dan lebih bagus.. pikirnya, ya... kalau orang kaya menikmati yang bagus-bagus.. itu sudah biasa.. tapi kalau mereka yang dari golongan rendah jarang bisa menikmati yang bagus dan yang terbaik.. aku akan memberikan mereka yang terbaik agar mereka juga dapat menikmati suatu yang sama dengan kaum orang kaya..Dan dengan menumpang colt bak terbuka yang penuh dengan bahan material yang dibelinya, Meutia menuju ke tempat biasa...setibanya di sana, sekonyong-konyong pak Roto menghampirinya,
” mbak Meutia..?”
” Ada apa Pak?” Meutia jadi khawatir.
“ tadi datang beberapa orang dari kelurahan, mereka bilang pembangunan tidak dapat diteruskan karena tidak ada izin?”
” apa?!.. Inikan bukan membangun sebuah bangunan....tak beratap, dan lagi pula untuk kepentingan masyarakat banyak bukan kepentingan pribadi..yang seharusnya mereka yang membuatkan fasilitas umum ini! apa-apaan ini..” Meutia menjadi geram, dikiranya dia tidak tahu menahu soal pembangunan.. dia yang berlatar belakang pendidikan arsitektur, tahu benar peraturan yang ada.
” Biasa mbak.. mereka menyangka ini proyek...biasanya mereka minta bagian, begitu sebelum-sebelumnya..” serasa dada Meutia ingin meledak..
” Begini ya pak Roto ..tolong dibereskan masalah ini, saya tidak mau berurusan dengan mereka, karena bisa-bisa saya emosi.. dan ingat tidak sepersenpun uang yang akan saya berikan kepada mereka...lagipula tak sepersenpun mereka menyumbang untuk pembangunan ini, pekerjaan akan terus dilakukan...jika mereka masih macam-macam katakan saya akan tuliskan ke seluruh media masa yang ada..dan akan saya usut siapa oknum itu!”
” ya ya.. mbak Meutia.. tenang saja ..akan saya bereskan” pak Roto tak menyangka wanita kecil ini yang tampak lemah itu, juga bisa garang bagai seekor singa.
Persoalan itu benar –benar membuat Meutia marah.. mereka tidak tahu bagaimana dia mengumpulkan uang sedikit demi sedikit demi kepentingan fasilitas umum ini, berjuang di bawah terik matahari dan guyuran hujan dengan menumpang ojek, berdempet-dempetan di angkutan umum dan menguras uang bulanannya sendiri yang tidak seberapa untuk ongkos mondar mandir.. ditambah dengan runyamnya hubungan dengan kekasihnya...enak saja mereka mencari uang dengan pungutan liar, dari uang yang menjadi hak orang-orang yang malang.. hak untuk menikmati air yang bersih dan sehat... "You've gotta be kidding me!.." geramnya

Ternyata berbuat untuk kebaikan juga tidak mudah… beberapa hari kemudian.. ketika pembangunan masih terus berjalan, Meutia baru saja sedikit istirahat berteduh di warung embah..menikmati teh botol dingin.. tiba-tiba seorang pekerja menghampirinya..
” mbak.. katanya hari ini disuruh berhenti kerja dulu..”
“ loh kenapa..?”
“ itu.. ada ibu-ibu PKK dari kelurahan..mau ada acara di Musholah, katanya berisik.”
“ iya tuh mane gayanya belagu amet, kayak istri pejabat yang punya kuasa aje” kata ibu RW kesal. Ampuun ada apalagi sih..guman Meutia, pemberhentian pekerjaan berarti menambah biaya harian tukang ahlinya..tidakkah ibu-ibu itu mengerti..sedang kita musti memanfaatkan uang dengan cermat agar cukup.
Tapi kali ini si embah yang emosi..
“ ape..? ! heh bilangin tuh ame ibu-ibu yang belagu itu yee.. ini mushola boleh dibangun bukan dari duit pemerintah.. ini dari tanah wakaf pak Arifin besan gue, dan awalnye dibangun sedikit demi sedikit, berdua dengan suami aye, pak Sam sebagai pengurusnye.. ngerti ngak tuh mereka!, dari cuman sebuah suro kecil.. sampai jadi sekarang.. itu swadaya masyarakat.. sumbangan-sumbangan dan ada yang minta di jalan .. enak aje.. petantang petenteng di sini..dah pokoknya ngak pake berhenti kerjain terus...” kata si embah bernapsu..
Meutia bahkan tidak memperdulikan masalah ibu ibu PKK Kelurahan itu.. dia terperanga dengan ucapan si mbah, benarkah... Mushola ini berdiri dari hasil sumbangan orang –orang yang berhati mulia... sungguh aku merasa tidak ada apa-apanya dibanding mereka.. mereka yang hidup dalam keterbatasan.. mampu merelakan tanah miliknya..uangnya..tenaganya.. untuk berdirinya sebuah tempat ibadah yang layak untuk dipakai bersama-sama.. Meutia benar- benar menjadi kagum..

****************


Hingga saat yang ditunggu tiba sumber air bersih itu telah selesai pembangunannya berkat kerjasama masyarakatnya.. mereka sangat terperanga dengan tempat itu.. setiap orang yang lewat pasti berhenti sejenak mengguman pujian.. menikmati suasana yang berbeda dari sebelumnya, dulu tempat yang kumuh dan jorok...menjadi tempat yang bersih dan terang..tempat mereka dapat menikmati air bersih..anak-anak kecil mandi dan bermain air dengan ceriahnya ..jeritan dan celoteh mereka mewarnai suasana sore itu ... tampak pak Sam berdiri lama memandang tempat itu.. dirabanya keramik putih bersih .. dan terus mengguman kecil entah apa yang dia katakan.. Meutia diam-diam memandangi lelaki tua itu jauh beberapa meter darinya..dalam hatinya berkata.. pak Sam... aku ingin kau bahagia.. aku ingin kau terharu... aku ingin kau tahu... kau tidak sendirian.. karena pak Arifin sudah pergi jauh ke alam yang lebih baik..orang-orang yang telah berdedikasi untuk orang banyak... aku memang tidak bisa berbuat sehebatmu.. aku hanya ingin kau tahu, ada yang ingin mencontoh dari apa yang telah engkau perbuat.....

Dan dari dana yang ada ternyata masih ada sisa untuk perayaan selamatan dengan mengundang anak-anak yatim piatu untuk berdoa bersama, dan membagi-bagikan sedikit uang saku untuk mereka. .apalagi dari seorang penyumbang ada yang memberikan dua ekor kambing untuk mengkekahkan cucunya.. jadi bisa untuk makan bersama dalam sebuah pesta kecil warga...karena management keuangan dipegang sendiri oleh Meutia jadi banyak yang bisa dihemat, sisa uang itu juga masih bisa dipergunakannya untuk membangun sumber air lain di RT 01 yang juga kesulitan air, walau tidak cukup untuk membangun sumber air sebagus yang di RT.10, tapi paling tidak ada 6 titik kran air yang dibuat untuk dapat mengucurkan air yang bersih dan lancar bagi warga di sana. Sore itu Meutia mampir ke RT. 01 untuk mengecek hasil akhir pekerjaan sumber air yang di bangun di sana..dan terlihat suasana yang ramai.. ada bapak-bapak ibu-ibu..remaja..bahkan anak kecil ..menggotong ember- ember penuh air dengan wajah yang berseri.. dan terdengar tawa- tawa kecil di antara mereka..sebagian berlari kecil menuju tempat sumber air dengan ember-ember kosong ...Meutia menyapa seorang ibu yang sedang mengantri..
” sedang apa bu..?” sapanya
” he hee.. iye ini lagi pade antri ambil air bersih... dah dari siang banyak yang ngantri nih ambil air di sini..”
” gimana airnya, bersih..?”
” iye.. bening banget..ngak bau .. dan lancar lagi... dulu mah susah banget dapetinnye.. boro-boro buat mandi... buat minum aje musti beli.. untungnye ada orang yang mau bantu...kate bu RW sih itu.. dulu ade mahasiswa yang neliti di sini.. trus dah lulus die bantu bikinin sumber air ini... pa lagi yang di RT. 10 tuh.. deket mushola .bagus banget deh... mampir aje mbak .. lihat ke sono.. deket jalan keluar arah pasar.“ , dan Meutia tersenyum.
„ ya bu nanti saya mampir ke sana..Mari bu...”
” iye..mari mbak..”
Dan Meutia membalikkan badannya.. membetulkan letak ranselnya ..bibirnya seperti tak mau berhenti tersenyum.. ada rasa bahagia.. haru.. dan senang menyatu jadi satu..yang belum pernah dia dapatkan dengan cara lain.. dipandangnya langit yang cerah di sore itu.. seakan memancarkan cahaya kepadanya...Tuhan... beri aku kesempat lain.. karena aku menyukai peran ini... doa Meutia pada kholiqnya.. dan seakan diiringi lagu fallen.. ia lanjutkan langkah dengan pasti menuju pengelanaan baru..

I can't believe it,
you're a dream comin' true.
I can't believe how
I have fallen for you.

And I was not looking,
was content to remain.
And it's ironic
to be back in the game.


This short story base on the true story, dedicated for Mr. Suroto, Mr. Arifin (alm.) and Mr. Sam (alm) who inspired me to do something for someone else..God bless You All…

http://blog.indosiar.com/sarojini/?op=readblog&idblog=82220

0 comments:

Post a Comment